Menuju Peradaban Indonesia yang Tinggi dan Mulia

Gerakan Indonesia Beradab Award

August 13, 2018


Untuk kedua kalinya, Gerakan Indonesia Beradab (GIB) selenggarakan GIB Award dalam rangka memberikan penghargaan kepada pihak yang dipandang merepresentasikan upaya kepemimpinan yang memberikan dampak signifikan kepada masyarakat sesuai kompetensinya masing-masing.

Wartapilihan.com, Jakarta –Prof. DR. Euis Sunarti, ia merupakan salah satu tokoh yang mendapatkan penghargaan untuk mewakili Tokoh yang Secara Akademik, Institusional dan Moral, secara konsisten memperjuangkan ketahanan keluarga sebagai inti peradaban.

Tahun ini, GIB mengusung tema “Kepemimpinan Beradab”. Kepemimpinan Beradab, terang Bagus Riyono yang merupakan Ketua Presidium Gerakan Indonesia Beradab, adalah Kkemampuan untuk memberikan pengaruh positif kepada lingkungan, khususnya keluarga, dalam rangka menegakkan human dignity.

“Kami sepenuhnya sadar bahwa penganugerahan GIB Award bagi pihak-pihak terpilih hanyalah sebuah stimulasi kecil bagi upaya tegaknya Indonesia yang beradab dan melalui ketahanan keluarga yang relijius,” kata Bagus, beberapa waktu lalu.

Berangkat dari tema di atas, ia memandang perlu untuk memberikan penghargaan moral kepada pribadi dan institusi yang dipandang merepresentasikan upaya kepemimpinan yang mampu memberikan dampak signifikan, baik bagi keluarga maupun lingkungan, dalam kompetensi dan kapasitasnya masing-masing.

Adapun kriteria yang diberikan yaitu memiliki rekam jejak yang dikenal luas di bidang kepemimpinan, baik formal, non-formal, maupun informal.

“Kedua, memiliki pengaruh positif terhadap lingkungannya, baik dalam skala kecil maupun luas, sesuai dengan amanah kepemimpinan yang dipikulnya. Ketiga, memiliki kapasitas dan prestasi untuk membangun peradaban pada skala komunitas dan keluarga,” jelas Bagus.

Selain Prof. Euis Sunarti, penerima GIB Award tahun 2018 ini ialah Alm. Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang mewakili Tokoh Kepemimpinan dengan Pengaruh Sosial-Budaya. Kemudian, Prof. DR Baharuddin Jusuf Habibie, mewakili Tokoh Kepemimpinan dengan Pengaruh Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Politik.

“Masjid Jogokariyan turut mewakili Institusi Sosial dengan Pengaruh Kepemimpinan dan Kaderisasi Sosial. Selain itu, KH. DR. Ir. Sholahuddin Wahid, mewakili Tokoh Kepemimpinan dengan Pengaruh Sosial-Keagamaan, yang merupakan buah dari proses regenerasi berkelanjutan,” kata dia.

Demikian juga dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang mewakili Organisasi Non-profit yang menghimpun dan menyalurkan dana sosial bagi keberlangsungan keberadaban kemanusiaan. Bagus berharap, dengan adanya penghargaan ini, semoga Allah SWT meridhai langkah kecil ini dan menjadikannya sebuah gelombang besar di masa yang akan datang.

Tokoh Inspiratif, Prof. Dr. Euis Sunarti

Prof. Dr. Euis Sunarti merupakan tokoh akademisi jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berfokus pada bidang ketahanan dan pemberdayaan keluarga. Kiprahnya dalam ketahanan keluarga ia tumpahkan melalui Gerakan Penggiat Keluarga (GIGA) ia pelopori.

Euis juga sudah menulis beberapa buku tentang ketahanan keluarga yang berjudul “Potret Ketahanan Keluarga Indonesia: Perspektif Keragaman Pola Nafkah Keluarga”, Family Kit Ketahanan Keluarga, dan Buku Potret Ketahanan Keluarga Indonesia di Wilayah Khusus

Ia juga pihak yang terlibat banyak terhadap Juducial Review yang diajukan kepada Mahkamah Konstitusi soal kelemahan pada pasal perzinaan di 284 KUHP, kekosongan hukum terhadap korban laki-laki yang ada di pasal 285 KUHP dan juga kekosongan hukum terhadap korban di atas usia 18 tahun pada pasal 292 KUHP.

Pengajuan JR ini diajukan bukan semata-mata untuk nafsu memenjarakan para pelanggarnya, tapi untuk melindungi masyarakat dari kekosongan hukum yang ada.

Guru Besar IPB ini merupakan dosen juga di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak tahun 1987; sejak tahun 2000 ia melakukan penelitian dan banyak menulis soal Ketahanan-kesejahteraan-pemberdayaan keluarga, juga ekologi keluarga.

Forum internasional juga menjadi jarahannya seperti International Community, Work, Family (CWF) di Sydney dan Konferensi International Work Family Researcher Network (WFRN) di New York. Perempuan kelahiran Bandung, 18 Januari 1965 ini banyak menjadi pengisi seminar dan workshop di BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Bappenas.

Eveline Ramadhini

by Adi Prawiranegara

Sumber: