Patah bukanlah pilihan yang indah untuk diingat, namun dalam hidup kita tidak akan selalu bisa menghindar dari situasi yang mematahkan hati, mematahkan semangat, mematahkan harapan. Lahir di tengah keterbatasan, tumbuh dengan pengasuhan orang tua yang terus mewariskan luka antar generasi, dan besar dengan hati yang selalu dikecilkan oleh lingkungan.
Manusia terbentuk dari interaksi antar lingkungan dimana dia hidup, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan tempat tinggal, tempat bekerja, teman pergaulan, dan interaksi setiap sistem tersebut (Bronfenbrenner, 1979). Jika kita tidak seberuntung itu untuk lahir dan hidup di lingkungan yang positif, kita masih punya kesempatan untuk menjadi orang yang menciptakan lingkungan positif itu. Menjadi manusia yang tidak patah meski dipatahkan berkali-kali. Manusia yang berusaha sembuh dari luka walau rasanya sering tak berdaya. Kita bisa menjadi rumah yang ramah dan amanah untuk orang-orang yang kita kasihi, menjadi tempat pulang yang aman untuk beristirahat setelah hiruk pikuk kehidupan yang melelahkan datang menghantam.
Setiap diri kita punya pilihan akan menjadi apa di masa depan. Hidup selalu memberi harapan bahkan di tengah gelapnya lorong yang rasanya tak kunjung ada pendar cahaya. Patah, lelah, dan luka adalah bahan baku harapan untuk kita bangkit. Bahan bangunan untuk kita membuat pondasi rumah yang lebih kuat, rumah ternyaman untuk kita tinggali dan tempat kembali orang-orang yang kita cintai.
Di kehidupan ini ada yang bernama resiliensi, daya ungkit, daya bangkit untuk mengubah benturan-benturan kehidupan menjadi pembentuk ketangguhan. Reivich & Shatte (2003) mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas individu untuk merespon secara sehat dan produktif setiap kesulitan, trauma, segala pengalaman negatif dalam hidup dengan pemaknaan yang lebih baik. Alih-alih berfokus sebagai pribadi yang terluka, selalu memendam lara, dan menyalahkan keadaan, mari kita bertumbuh menjadi manusia yang lebih berharga. Manusia yang memberi arti bagi kehidupan dengan menghidupkan kebaikan dan harapan. Berusaha membangun rumah meski pernah patah.
Referensi
Bronfenbrenner, U. (1979). The Ecology of Human Development: Experiments by Nature and Design Harvard University Press.
Reivich, K., & Shatte, A. (2003).The Resilience Factor: 7 Keys to Finding Your Inner Strength and Overcoming Life’s Hurdles. Three Rivers Press.
Penulis : Bety/LAKI
Copyright 2021 Gerakan Indonesia Beradab. All Right Reserved