Menuju Peradaban Indonesia yang Tinggi dan Mulia

Ruang Tumbuh #1: Menjalani Hidup yang Tak Sesuai Rencana

October 20, 2026


Sebagai manusia, kita pasti pernah menyusun rencana tentang kehidupan yang ingin kita jalani. Ada mimpi yang diperjuangkan, tujuan yang jelas, dan harapan tentang hari esok yang tampak nyata dan terasa pasti akan tergapai. Namun, sayangnya kehidupan tidak berjalan sedemikian rupa. Ketika kita harus menghadapi kenyataan yang berbeda, kita mungkin merasa sedih, kecewa, kehilangan arah, bahkan mempertanyakan kemampuan diri sendiri.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Ruang Tumbuh #1 mengangkat tema “Menjalani Hidup yang Tak Sesuai Rencana” pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 22 peserta dan dipandu oleh Kuni Aisyah Habibah, S.Psi., Psikolog. Melalui sesi ini, peserta diajak untuk memahami perasaan yang muncul ketika menghadapi kenyataan yang berbeda dari harapan, sekaligus menemukan kembali arah dalam menjalani kehidupan.

Sesi dimulai dengan pertanyaan sederhana: satu kata apa yang menggambarkan hari ini? Beragam jawaban muncul, mulai dari lelah, sedih, kosong, hingga semangat. Kata “lelah” menjadi jawaban yang paling banyak disampaikan. Peserta juga diajak mengenali kondisi diri melalui skala 1–10. Aktivitas pembuka ini menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan menyadari kondisi diri sebelum melangkah lebih jauh ke dalam proses refleksi.

Untuk memahami pengalaman dengan lebih dalam, peserta diajak mengerjakan lembar refleksi mengenai rencana yang pernah dimiliki, kenyataan yang sedang dihadapi, serta emosi yang muncul ketika membandingkan antara rencana yang pernah dibuat dan realita yang ada sekarang. Kemudian, peserta diminta untuk membagikan ceritanya secara sukarela. Ada yang perlu menerima kenyataan bahwa perjalanan pendidikannya berbeda dari yang diimpikan. Ada pula yang harus meninjau kembali rencana untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan diri setelah menjalani peran baru dalam keluarga.

Ketika membicarakan tentang plan, pastinya tidak jauh dari bagaimana cara mencapainya. Ketika selesai menceritakan mengenai pengalamannya, mungkin ada pikiran “Apa yang kurasakan ini? Mengapa hidup tak sesuai rencana itu terasa begitu berat?”. Artinya, mungkin dibalik rencana yang kita miliki mengandung makna tertentu. Terkadang rencana itu menjadi bagian dari identitas diri, sarana untuk membuktikan kemampuan, atau bahkan sesuatu yang dianggap sebagai syarat untuk merasa bahagia. Ketika rencana itu tidak terwujud, seseorang mungkin merasa gagal, kehilangan gambaran tentang dirinya, atau kesulitan membayangkan masa depan.

Lantas, ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana, apakah kita harus terus menetap dalam rasa kehilangan tersebut? Bagaimana menemukan arah ketika tujuan yang sebelumnya diyakini justru berubah?

Dalam sesi ini, peserta diajak untuk mengenali kembali nilai-nilai pribadi (personal values) sebagai kompas dalam menjalani kehidupan. Nilai merupakan prinsip yang mencerminkan bagaimana seseorang ingin bertindak, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Berbeda dari tujuan yang dapat berubah seiring keadaan, nilai dapat tetap menjadi pedoman dalam menentukan langkah, bahkan ketika jalan yang ditempuh tidak lagi sama dengan rencana awal.

Mengenali kembali nilai pribadi bukan berarti harus mengabaikan kesedihan atau berpura-pura menerima semua keadaan dengan mudah. Sebaliknya, proses ini memberi ruang untuk mengakui bahwa ada hal-hal yang memang terasa berat, sekaligus membantu kita melihat bahwa kehidupan masih dapat dijalani dengan cara yang bermakna. Ketika satu jalan tidak lagi memungkinkan, kita dapat mencari jalan lain yang tetap selaras dengan hal-hal yang kita anggap penting.

Ruang Tumbuh menjadi ruang untuk merefleksikan kembali hubungan antara harapan, kenyataan, dan nilai pribadi. Hidup yang tidak sesuai rencana memang dapat menghadirkan rasa kehilangan dan ketidakpastian. Namun, perubahan arah tidak selalu berarti kehilangan seluruh makna perjalanan. Kita tetap dapat bertumbuh, mengambil langkah, dan menjalani kehidupan sesuai dengan nilai yang ingin kita pegang.

Sebab, mungkin yang perlu kita temukan kembali bukanlah cara agar semua rencana berjalan sempurna, melainkan kompas yang membantu kita tetap melangkah ketika kehidupan membawa kita ke arah yang berbeda.

Penulis: Wahida Amalin