Menjadi seorang ibu sering kali lekat dengan tuntutan untuk selalu kuat dan mampu mengurus berbagai hal. Padahal, ibu juga bisa merasa lelah, bingung, marah, sedih, atau membutuhkan tempat untuk bercerita. Oleh karena itu, ibu juga membutuhkan ruang yang aman untuk berhenti sejenak, memahami diri, dan didengarkan. Hal inilah yang menjadi salah satu semangat dalam kegiatan Support Group TemanIbu #5 yang diselenggarakan pada Minggu, 9 Agustus 2026. Kegiatan ini diikuti oleh tujuh peserta dan difasilitasi oleh Kuni Aisyah Habibah, S.Psi., Psikolog. Melalui kegiatan ini, para ibu diajak untuk mengenali pengalaman dan perasaan yang sedang mereka hadapi, sekaligus saling menguatkan melalui proses sharing bersama.
Untuk memulai kegiatan, peserta diminta untuk menggambar sebatang pohon yang seolah-olah menggambarkan dirinya. Para peserta kemudian diminta menuliskan berbagai kejadian yang mereka alami akhir-akhir ini, beserta perasaan, pikiran, reaksi fisik, dan sikap yang muncul ketika menghadapi kejadian tersebut. Dari sini, peserta diajak melihat pengalaman mereka dengan lebih dekat. Pohon kemudian digunakan sebagai gambaran untuk memahami diri. Daun menggambarkan emosi, batang menggambarkan pikiran, sedangkan akar menggambarkan akar rasa yang mendasari berbagai pikiran dan emosi tersebut. Akar rasa dapat terbentuk dari pengalaman dan cara seseorang menilai dirinya sendiri, orang lain, maupun dunia di sekitarnya.
Dalam sesi sharing, para peserta pun berbagi apa yang telah digambarkan dan artinya bagi mereka. Setiap peserta memiliki cerita masing-masing. Mulai dari relasi dengan pasangan, menjalankan berbagai peran dalam keluarga, menghadapi perubahan dalam kehidupan, hingga kebutuhan untuk memiliki support system. Berbagai cerita yang muncul menunjukkan bahwa setiap ibu memiliki pengalaman yang berbeda, tetapi semuanya memiliki ruang untuk didengarkan dan dipahami.
Salah satu pembahasan yang menarik dalam kegiatan ini adalah tentang “kuat dan kokoh” yang tidak sama dengan “kaku.” Seperti pohon yang dapat bertahan menghadapi berbagai cuaca karena memiliki akar yang kuat sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, manusia juga perlu belajar menjadi kuat tanpa harus bersikap kaku terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi dan dokumentasi bersama. Support Group TemanIbu menjadi pengingat bahwa di balik banyaknya peran yang dijalankan, ibu juga merupakan seorang individu yang membutuhkan ruang untuk merasa aman, didengarkan, dan diterima. Sebab, menjadi ibu tidak berarti harus selalu baik-baik saja. Terkadang, memiliki ruang untuk berhenti sejenak dan berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja,” juga merupakan bagian dari proses untuk kembali bertumbuh dan menguat.
Penulis: Wahida Amalin/LAKI
Copyright 2021 Gerakan Indonesia Beradab. All Right Reserved