Anakmu bukan milikmu, mereka ada padamu, tetapi bukan hakmu. Patut kau berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak untuk jiwanya. Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Begitulah pesan Kahlil Gibran yang dikutip oleh Soemanto (2010), sebagaimana dimuat dalam buku Pola Asuh Orang Tua dan Kemandirian Anak karya Sunarty (2015).
Mengapa Mereka Menangis?
Sebagian besar kehidupan manusia dimulai dengan tangisan. Bagaimana tidak? tanda nyata bahwa bayi yang baru lahir itu hidup adalah lewat tangisan. Biasanya tangisan yang kuat pada saat itu dianggap sebagai tanda kesehatan, karena bayi perlu mengembangkan paru-parunya. Tangisan pada bayi tidak memiliki makna yang sama seperti pada orang dewasa, yang bisa menangis karena kesedihan atau bahkan kebahagiaaN (Maldonado et al., 2019). Bayi mengartikan tangisan sebagai sinyal rasa sakit, ketidaknyamanan, kebosanan, atau keinginan untuk mendapat perhatian, dan orang tua bisa memberikan beragam respon; mulai dari kasih sayang dan empati, mengabaikan, merasa terganggu, atau bahkan marah (Out et al., 2010).
Respon orang tua bisa bervariasi dari yang positif hingga negatif, respon paling berbahaya bisa berupa memukul bayi. Jika orang tua memaknai tangisan sebagai tindakan disengaja bayi untuk mengganggu mereka atau memberi makna negatif lainnya, maka yang timbul adalah respon negatif, orang tua bisa merasa marah (Soltis, 2004), atau merasa sangat frustasi (Bensel, 2010). Respon orang tua terhadap tangisan bayi dapat menentukan perkembangan emosional dan perilaku anak di masa depan. Maka persepsi orang tua terhadap tangisan bayi penting untuk diperhatikan.
Apa Itu Menangis?
Untuk seorang bayi tangisan adalah cara mereka mengkomunikasikan ketidaknyamanan atau kebutuhan akan perawatan dari orang tua (Maldonado et al., 2019). Tangisan dipandang sebagai perilaku dasar yang dimiliki bayi untuk memancing perhatian (Zeifman, 2001). Seiring bertambahnya usia, tangisan bisa muncul karena marah, sedih, takut, frustasi, ketidakpuasan, atau rasa sakit fisik. Umumnya tangisan pada bayi disebabkan oleh rasa lapar dan ketidaknyamanan seperti popok kotor atau basah (Zeifman, 2005).
Tangisan Itu Normal, Bukan Tanda Gagal
Terdapat enam karakteristik tangisan normal pada bayi dengan akronim PURPLE:
Tangisan adalah bagian dari kemampuan regulasi emosi awal bayi (Galling et al., 2023). Tangisan bayi yang sering dan lama, terutama di usia 2 minggu sampai 3 bulan, bukan pertanda bayi sakit, dan bukan juga karena orang tua gagal. Itu adalah bagian dari perkembangan otak dan sistem regulasi emosi bayi yang sedang tumbuh (Barr, 2006). Respons yang konsisten dan penuh kasih membentuk kelekatan aman yang kelak berpengaruh pada rasa aman, kepercayaan diri, dan regulasi emosi anak ketika tumbuh dewasa (Nelson, 1998).
Apa yang bisa dilakukan ketika anak menangis?
Tiga langkah yang bisa orangtua lakukan ketika anak menangis adalah:
Tangisan bayi adalah normal dan bisa jadi sangat lama atau sulit dihentikan, mau bagaimanapun ia adalah sebuah fase yang akan mereka lalui pada fase pertumbuhannya. Maka respons orang tua adalah kuncinya, tetaplah tenang, jangan merasa gagal dan jangan bertindak menyakiti (Barr, 2006) Yang bayi butuhkan bukan orang tua yang sempurna tapi orang tua yang tenang, sadar, dan mau belajar. Bayi tidak bisa berkata, “Aku lapar” atau “Aku ingin dipeluk,” jadi ia menangis. Dengan memahami tangisan bayi, orang tua sedang membangun dasar kelekatan dan tumbuh kembang optimal bagi anak-anak mereka.
REFERENSI
Barr, R. G. (2006). Crying behavior and its importance for psychosocial development in children. Encyclopedia on early childhood development. Montreal (QC): Centre of Excellence for Early Childhood Development, 1-10.
Bensel, J. (2010). Exzessives schrien beim säugling. [Excessive crying in the infant]. Die Hebammer, 80–85.
Maldonado-Duran, J. M., Jiménez-Gómez, A., Maldonado-Morales, M. X., & Lecannelier, F. (Eds.). (2019). Clinical handbook of transcultural infant mental health. Springer International Publishing.
Nelson, J. K. (1998). The meaning of crying based on attachment theory. Clinical Social Work Journal, 26(1), 9-22.
Galling, B., Brauer, H., Struck, P., Krogmann, A., Gross-Hemmi, M., Prehn-Kristensen, A., & Mudra, S. (2023). The impact of crying, sleeping, and eating problems in infants on childhood behavioral outcomes: a meta-analysis. Frontiers in Child and Adolescent Psychiatry, 1, 1099406.
Out, D., Pieper, S., Bakermans-Kranenburg, M. J., Zeskind, P. S., & van IJzendoorn, M. H. (2010). Intended sensitive and harsh caregiving responses to infant crying: The role of cry pitch and perceived urgency in an adult twin sample. Child Abuse & Neglect, 34(11), 863–873.
Soltis, J. (2004). The developmental mechanisms and the signal functions of early infant crying. Behavioral and brain sciences, 27(4), 477-490.
Sunarty, K. (2015). Polah Asuh Orang Tua Dan Kemandirian Anak.
Zeifman, D. M. (2005). Crying behaviour and its impact on psychosocial child development: Comment on Stifter, and Zeskind. Tremblay RE, Barr RG, Peters RDeV, eds. Encyclopedia on Early Childhood Development, 1-4.
Penulis : Nisa Nurkhairiyyah/LAKI
Peninjau : Lu’luul Jannah/LAKI
Copyright 2021 Gerakan Indonesia Beradab. All Right Reserved